• Latest

Kebakaran Gambut Berulang, Evaluasi Izin Perlu Dilakukan

28/07/2020

Bimbim SLANK Ajak Slankers Hadiri Harlah 1 Abad Nahdatul Ulama, Pakai Peci dan Baju Putih

28/01/2023

Santri Dukung Ganjar Gelar Doa dan Berikan Bantuan Material Bangunan untuk Ponpes di Jambi

28/01/2023

Santrine Abah Ganjar Serahkan Bantuan Mushaf Al-Qur’an untuk Majelis Taklim di Batanghari

27/01/2023

Konser Noah di Jambi Pesan Tiket di Hellosapa

27/01/2023

Nasdem Mulai Ragu Usung Anies Baswedan? Akan Siapkan Alternatif

25/01/2023
Sunday, January 29, 2023
News and Entertainment
  • BERITA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
  • KUIS
  • POLITIK
  • BEBAS BICARA
  • KABAR LINGKUNGAN
  • OPINI
  • SOSOK
No Result
View All Result
News and Entertainment
No Result
View All Result

Kebakaran Gambut Berulang, Evaluasi Izin Perlu Dilakukan

by ADMIN
28/07/2020
in OPINI
ShareTweetSendScan

Jambi belum terbebas dari ancaman karhutla. Hampir setiap tahun di musim kemarau terus terjadi kebakaran, dan wilayah gambut menjadi daerah yang paling rawan. Pemerintah seharusnya sadar bahwa kerusakan gambut telah memunculkan daerah-daerah rawan karhutla.

Pada 2020, Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi telah memetakan setidaknya 258 desa masuk dalam daftar rawan karhutla. Lebih dari 100 desa berada di daerah gambut yang tersebar di wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur dan Muaro Jambi. Umumnya desa-desa ini berada di sekitar konsesi perusahaan dan perkebunan kelapa sawit.

RelatedArticle

Bimbim SLANK Ajak Slankers Hadiri Harlah 1 Abad Nahdatul Ulama, Pakai Peci dan Baju Putih

Santri Dukung Ganjar Gelar Doa dan Berikan Bantuan Material Bangunan untuk Ponpes di Jambi

Santrine Abah Ganjar Serahkan Bantuan Mushaf Al-Qur’an untuk Majelis Taklim di Batanghari

 

Kami melihat pembukan perkebunan sawit dan izin HTI banyak menyebabkan gambut menjadi kering dan rusak. Karakter tanaman kelapa sawit yang rakus air dan tak bisa produktif dalam kondisi basah, tidak cocok dikembangkan di kawasan gambut.

 

Pemerintah sebagai pemegang kuasa semestinya ikut melindungi gambut dengan mengeluarkan regulasi yang mendukung perlindungan gambut, misal pemegang izin konsesi hanya boleh menanam tanaman yang ramah dengan gambut atau endemik gambut. Bukan malah menghancurkannya demi kepentingan investasi.

 

Mengacu pada data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jambi, sekitar 70 persen dari total 751 ribu hektar lahan gambut di Jambi telah dibebani izin konsesi perkebunan kelapa sawit dan HTI. Ratusan kanal dibuat perusahaan untuk mengeringkan gambut. Hasilnya, tak sedikit kubah gambut rusak dan kini rawan terbakar.

 

Awal 2016, pemerintah sebetulnya telah memulai langkah yang benar dengan membentuk Badan Restoasi Gambut (BRG) untuk memulihkan kondisi gambut yang rusak. Sayangnya pemerintah masih bertindak setengah hati. Faktanya BRG tak bisa melakukan intervensi penuh di kawasan izin konsesi perusahaan. Jadi jangan heran jika kerusakan gambut terus terjadi sampai hari ini.

 

Catatan KKI Warsi sebuah NGO lingkungan di Jambi juga menunjukkan buruknya perlindungan gambut. Setidaknya lebih dari 20 konsesi perusahaan mengalami kebakaran berulang pada 2019. Pemegang izin di kawasan gambut mendominasi. Ini seharunya menjadi catatan penting bagi pemerintah untuk berani melakukan tindakan tegas.

 

Selama ini, pemerintah daerah selalu melempem kala berhadapan dengan perusahaan besar yang terlibat kasus karhutla. Pemda tak pernah berani melakukan tindakan tegas untuk memberikan efek jera. Justru selalu mengandalkan pemerintah pusat.

 

Praktis penanganan kasus karhutla berjalan sangat lamban. Lihat saja, kasus kebakaran 2015 yang melibatkan perusahaan belum juga tuntas hingga 2020. Harus diakui jika sikap lemah pemerintah daerah juga ikut mendorong kebakaran di Jambi terus berulang.

 

Pemerintah harus segera mengevaluasi semua izin yang telah diberikan di kawasan gambut jika ingin serius menangani karhutla. Perusahaan yang terbukti lalai harus ditindak tegas, sanksi pencabutan izin perlu dilakukan untuk memberikan efek jera. Tentu langkah ini akan berdampak pada investasi, tetapi pemerintah seyogyanya lebih memprioritaskan warganya dibandingkan masalah ekonomi.

 

Ancaman Karhutla 2020

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di Jambi telah mengingatkan puncak kemarau akan terjadi Agustus. Meski potensi el nino normal tahun ini, bukan berarti kebakaran tidak akan terjadi. Pemerintah tidak boleh lengah.

 

Upaya pencegahan dengan melakukan sosialisasi agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar, nyatanya belum menujukkan tanda-tanda keberhasilan. Terbukti, lima tahun terakhir di Jambi selalu terjadi kebakaran. Bahkan kebakaran 2019 seperti mengulang kejadian buruk di 2015. Lebih 154 ribu hektar lahan terbakar dan 60 persennya merupakan kawasan gambut. Kebakaran di Jambi pada 2019 diperkirakan telah membuat negara rugi hingga Rp 12 triliun.

 

Sampai saat ini kita belum melihat pemerintah punya solusi taktis untuk mencegah karhutla terus berulang. Meski, saat ini Pemerintah Provinsi Jambi telah menyiapkan lebih dari 5.000 personel untuk operasi penanganan karhutla. Langkah ini justru memperlihatkan jika pemerintah lebih mengandalkan penanganan ketimbang pencegahan.

 

Di masa pandemi seperti saat ini langkah penanganan karhutla akan sulit dilakukan maksimal. Pengetatan protokol kesehatan praktis akan mengganggu kerja petugas di lapangan. Belum lagi, masalah anggaran yang dipangkas dan dialihkan untuk penanganan Covid-19 dan dampaknya yang kian meluas. Bukan tidak mungkin, dana operasi penanganan karhutla tahun ini akan membengkak akibat penerapan protokol kesehatan.

 

Pemerintah semestinya fokus pencegahan di daerah gambut yang rawan terbakar dengan melakukan pembasan menyeluruh. Pemerintah harus mampu menekan semua pemegang izin untuk menjamin lahan gambut di wilayah konsesinya tetap basah. Sebab, sekali muncul api di kawasan gambut akan sulit dipadamkan dan berpotensi meluas. Dampaknya bukan hanya kerusakan, tapi juga bencana kabut asap.

Belajar dari Korban Karhutla

 

Kita masih ingat saat langit di Kecamatan Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi merah September 2019 lalu. Ribuan hektar lahan gambut terbakar hingga sulit dikendalikan. Berbulan-bulan Jambi diselimuti kabut asap tebal. Bahkan kualitas udara di Kota Jambi beberapa hari dalam kondisi berbahaya.

 

Puncaknya pada 16 Oktober 2019, pukul 08,00 WIB Data Air Quality Monitoring System (AQMS) Dinas Lingkungan Hidup Kota Jambi menunjukkan konsentrasi PM 2,5 mencapai 1.618 dalam kondisi berbahaya. Udara di Muaro Jambi, kawasan gambut terbesar di Jambi juga sama bahayanya.

 

63 ribu lebih warga Jambi dilaporkan terserang ISPA akibat kabut asap. Kota Jambi menjadi wilayah dengan jumlah kasus ISPA tertinggi. Data Dinas Kesehatan Kota Jambi sejak Agustus hingga minggu kedua Oktober tercatat lebih 24 ribu kasus, 60 persen di antaranya anak-anak. Puluhan ibu hamil juga ikut menderita akibat kabut asap.

 

Buruknya kualitas udara memaksa Pemerintah Kota Jambi untuk meliburkan semua siswa sekolah. Langkah ini juga dilakukan hampir semua pemerintah kabupaten di Jambi.

Dampak karhutla nyatanya tak berhenti di situ.

 

Jika diingat kematian empat warga Jambi juga terkait dengan karhutla 2019. Agustus 2019, Asmara anggota Manggala Agni Daops Muara Bulian, Kabupaten Batanghari meninggal tertimpa pohon saat mencari sumber air untuk memadamkan api di kawasan Tahura di Km. 13, Desa Senami. Belum genap sebulan berselang, Suparmi warga Rt.08 Desa Matagual, Kecamatan Batin XXIV, Kabupaten Batanghari juga mengalami hal serupa. Ibu 40 tahun itu tertimpa pohon saat berusaha memadamkan api saat kebun karetnya terbakar.

 

Ahmad Tang, lelaki 55 tahun warga Desa Sei. Jambat, Kecamatan Sadu yang memiliki riwayat asma akut juga meninggal akibat buruknya kualitas udara saat karhutla terjadi. Bahkan empat hari sebelumnya, warga Suku Anak Dalam Pangkalan Ranjau, Kecamatan Bahar Selatan, Kabupaten Muaro Jambi juga meninggal akibat asmanya kambuh saat bencana kabut asap terjadi.

 

Di tengah kasus Covid-19 yang terus meningkat, kita khawatirkan karhutla akan menimbulkan dampak yang jauh lebih buruk dari yang terjadi sebelumnya. Mengingat anak-anak, lansia, dan warga yang memiliki penyakit pernapasan sangat rentan. Di tengah situasi serba sulit, pemerintah harus bekerja keras untuk memastikan kebakaran tidak lagi terjadi.

* Feri Irawan, Direktur Perkumpulan Hijau dan Koordinator Simpul Jaringan Pantau Gambut Jambi.

Previous Post

Breaking News Fasha-AJB Resmi Kantongi Surat Rekomendasi PPP

Next Post

Mendebat Lirik Lagu Aisyah Jadi Standar Kencatikan Perempuan.

Related Posts

Tolak Sistem Pemilu Tertutup

by ADMIN
31/12/2022
0

Oleh Mahyudi *Ketua DPW Gelora Jambi Kemarin publik dikejutkan oleh statemen Hasyim Asyari Ketua KPU RI terkait kemungkinan pemilu 2024...

Generasi Krisis Identitas

by ADMIN
26/11/2022
0

Oleh Mery Fafrida, S.P., S.Pd., M.Pd. (*) Teknologi memberi banyak kemudahan bagi kehidupan manusia. Namun di sisi lain teknologi juga...

Menelisik Problematika dan Sekelumit Persoalan Batubara di Jambi

by ADMIN
20/09/2022
0

Oleh : M Iqbal Linus (Ketua KNPI Provinsi Jambi) Melihat fenomena batu bara yang terjadi di Jambi bukanlah hal baru...

Sebelum Demokrat Demo Baiknya Belajar Matematika Dan Sejarah Dulu

by ADMIN
07/09/2022
0

Ditulis : Adian Napitupulu Di era SBY total kenaikan harga BBM (Premium) Rp 4.690 sementara di era Jokowi total kenaikan...

Subholding di Perkebunan Nusantara Langkah Tepat Erick Thohir Untuk Mengoptimalkan Asset dan Mendukung Ketahanan Pangan

by ADMIN
04/09/2022
0

Oleh: Kiki Rizki Yoctavian Pengamat BUMN Presnas Persatuan Nasional Aktivis 98 (PENA98). Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir...

Next Post

Mendebat Lirik Lagu Aisyah Jadi Standar Kencatikan Perempuan.

Bacakada Sudah Dapat Partai Pengusung di Pilgub Jambi, Bisa Tiga Pasang Atau Empat Pasang?

FKPT Provinsi Jambi Gelar Kegiatan Moderasi Dari Sekolah

VIDEO Ratu Munawaroh Akui Gabung PDIP

H Muchtar Tokoh Masyarakat Sebrang Kota Jambi Siap Menangkan CE-RATU jadi Gubernur Jambi

Discussion about this post

January 2023
S M T W T F S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
« Dec    

TERATAS

  • Menteri Nadiem Makarim Sebut Cuma 3 Daerah di Jambi yang Boleh Membuka Sekolah Secara Tatap Muka

    9119 shares
    Share 9119 Tweet 0
  • Ini Dia Pengusaha Minang, Sumbang 13 Miliar Rupiah Untuk Tangani Covid 19

    47773 shares
    Share 47773 Tweet 0
  • TERBARU Lowongan Kerja BUMN PT Pertamina Cari Karyawan, Lulusan SMA/SMK D3 S1

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cuma 5 Menit Eksekusi Pembunuh, Kisah Serda Ucok Tigor Simbolon Tembus Lapas Cebongan

    345 shares
    Share 345 Tweet 0
  • LINK Video Syur 14 Detik Mirip Artis Gabriella Larasati

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karomah Syekh Muhammad Thoifur Mawardi Tidak Basah Meski Berjalan di Bawah Hujan, Berkali-kali Mimpi Bertemu Nabi Muhammad

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KABAR Duka, Mbah Kung Alias Hamid Hendrawan Meninggal Dunia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jambi Termasuk Zona Hijau, Nadiem Makarim Sebut Boleh Buka Sekolah

    8339 shares
    Share 8339 Tweet 0
  • Kisah Pilot Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 Fadly Satrianto yang Mau Menikah dan Capt Afwan Ingatkan Sholat Subuh

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Daftar Film Panas yang Marak Di Bioskop Indonesia Era 90 an

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2020 Swaranesia

  • BERITA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
  • KUIS
  • POLITIK
  • BEBAS BICARA
  • KABAR LINGKUNGAN
  • OPINI
  • SOSOK

© 2020 Swaranesia